Konfigurasi Airframe

Dalam mendesain pesawat terbang, pesawat tanpa awak (UAV), maupun pesawat aeromodelling, terdapat cukup banyak variasi pemilihan konfigurasi pesawat misalkan konvensional, tail-boom, tailless , delta dan lain sebagainya.

Banyaknya variasi ini sering menjadikan dilema serta menjadi perdebatan manakah konfigurasi yang terbaik. Oleh karena itu dalam artikel ini akan dibahas beberapa konfigurasi pesawat terbang (airframe) khususnya yang menjadi trend di kalangan UAV mengenai keunggulan dan kekurangan dari beberapa konfigurasi tersebut.

airframe config

a. Tail-aft on Fuselage

Konfigurasi ini adalah yang paling umum digunakan, sehingga tidak jarang juga disebut dengan konfigurasi konvensional. Ekor (Empenage) dari konfigurasi ini pada umumnya adalah berbentuk T, Y maupun V tail.

Dengan fuselage yang panjang, menjadikan volume yang dimiliki lebih besar dibandingkan dengan konfigurasi lainya, sehingga konfigurasi ini sering digunakan untuk UAV yang membutuhkan endurance sangat tinggi untuk menyimpan bahan bakar yang sangat banyak dan sensor-sensor yang besar.

b. Tail-aft on Booms

Konfigurasi menggunakan tail-boom ini cukup banyak digunakan pada UAV dengan jarak misi menengah. Keunggulan dari konfigurasi ini adalah peletakan mesin pendorong yang dekat dengan center of gravity (CG), sehingga lebih stabil dan lebih mudah diatur karena tidak sensitif terhadap CG.

Kemudian, letak empenage yang berada di belakang propeller juga meningkatkan efektivitas dari control surface (elevator dan ruder) sehingga lebih mudah dikendalikan meski dalam kecepatan yang rendah.

Selain itu, konfigurasi ini memungkinkan propeller dan mesin lebih terlindungi ketika take-off maupun landing.

c. Canard

Konfigurasi ini memiliki horizontal stabilizer jauh di depan CG. Tidak seperti konfigurasi dengan ekor di belakang CG, horizontal stabilizer yang berada di depan menyeimbangkan pesawat dengan cara menghasilkan gaya kearah atas (lift), sehingga secara aerodinamika lebih efisien. Kemudian, sayap yang berada di belakang juga membuat karakteristik stall lebih baik karena stabiliser dapat diatur untuk stall lebih dahulu dari sayap.

Namun karena CG berada di belakang, stabilitas direksional (yaw) dari konfigurasi ini menjadi kurang baik, karena pemberian vertical stabilizer tidak memiliki jarak yang cukup terhadap CG sehingga efektivitasnya berkurang.

d. Flying wing

Konfigurasi ini biasa digunakan oleh UAV berukuran kecil dan sedang karena kesederhanaan nya, yang mana menguntungkan secara struktural maupun penggunaan sistem penggerak. Secara umum, semakin sederhana suatu sistem, maka akan lebih handal.

Untuk mencapai kestabilan secara longitudinal (pitch), digunakan sweep-back serta airfoil yang memiliki momen positif. Selain itu, penggunaan sweep-back juga berfungsi untuk mencapai kestabilan direksional (yaw).

e. Delta wing

Hampir sama dengan flying wing, yaitu sifatnya yang sederhana menjadikan konfigurasi ini lebih handal. Selain itu, bentuk sayap delta juga tidak mudah rusak dibandingkan bentuk lainya. Meskipun secara aerodinamika, bentuk delta kurang menguntungkan karena menghasilkan induced drag yang besar.

Bentuk delta ini biasa dimanfaatkan juga untuk menyimpan parasut karena penampang sayapnya yang luas.

Untuk mempelajari lebih banyak artikel-artikel tentang aeromodelling klik di sini.

By Caesar Wiratama

aeroengineering.co.id merupakan jasa layanan dibawah PT Markom Teknologi Engineering dengan berbagai jenis solusi, mulai dari drafting CAD, pembuatan animasi, simulasi aliran dengan CFD dan simulasi struktur dengan FEA. Pelajari selengkapnya di sini.

Sejarah Aeromodelling di Indonesia

     Olahraga Aeromodelling merupakan olahraga Dirgantara yang tumbuh bersama-sama dengan dunia penerbangan baik sipil maupun militer. Di Indonesia pertama kali timbul di lingkungan TNI – AU melalui Kepanduan Pramuka Dirgantara.
     Kegiatan pembuatan pesawat model ini dimulai sejak tahun 1946 bersamaan dengan dirintisnya pembuatan pesawat layang pertama di Yogyakarta ( Aeromodeller dan Pandu Udara ) dan berkembang ke kota-kota besar, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Surakarta.
      Untuk menampung peminat yang makin banyak maka AURI ( TNI AU ) memberikan wadah “BIRO AERO CLUB” yang dibina oleh Kapten G. Reuneker, dan untuk pertama kalinya diadakan perlombaan pada tanggal 27 Januari 1952 di Pangkalan Udara Cililitan / Halim Perdanakusuma Jakarta yang diikuti Club-Club Aeromodelling kota-kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan.

Pada 9 April 1953 Biro Aero Club membuka kursus Aeromodelling di Jakarta yang mendapat perhatian besar dari masyarakat. Menyusul perlombaan selanjutnya pada tanggal 17 Mei 1954, yang diikuti oleh Aero Club Jakarta, Bandung, Surabaya, Palembang, Banjarmasin, Makasar, Ambon dan perlombaan ini dilaksanakan setiap tahun.

      Juni 1954 untuk pertama kalinya diadakan perkemahan Pandu Udara di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang dihadiri oleh 80 Pandu Udara dari seluruh Indonesia. Di dalam perkemahan ini dilaksanakan perlombaan kedirgantaraan. Perlombaan ini merupakan percobaan jajak pendapat untuk melihat animo masyarakat. Tujuan utamanya adalah untuk mendidik pelatih-pelatih khusus hingga pada tahun 1955 telah tercatat 35.000 anggota Pandu Udara di seluruh Indonesia.
     Kegiatan Aero Club mulai nampak dengan berdirinya Aero Club di kota-kota besar antara lain : Aviantara di Bandung, Jakarta Aero Club di Jakarta, Pemudara dan Yan Debrito di Yogyakarta, Surakarta Aero Club di Surakarta, Malang Aero Club di Malang.
Perlombaan tahun 1957, bagi pemenang / juara perlombaan dipilih untuk dikirim ke Yugoslavia mengikuti pendidikan Terbang Layang.Tahun 1960 TNI AU bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ( P&K ) menyelenggarakan pendidikan Kursus Aeromodelling dan Peroketan (K.A.P) bertempat di Wing Pendidikan 04 Lanud Adi Sumarno. Pendidikan K.A.P ini diikuti oleh siswa-siswa daerah, baik anggota TNI, Sipil TNI, Guru maupun Pramuka. K.A.P berjalan sampai beberapa periode. Dari hasil pendidikan K.A.P tumbuh masukan-masukan / usul-usul daerah untuk menghimpun perkumpulan-perkumpulan / club-club Aeromodelling dalam satu organisasi.
     Dari masukan-masukan / usulan-usulan, Letnan Suhartono ( Kepala Kursus Aeromodelling dan Peroketan ) memprakarsai untuk mengadakan pertemuan membahas organisasi Aeromodelling.
Tahun 1962 di Hotel Merdeka Solo terlaksana diselenggarakan Rapat Rencana Pembentukan Organisasi Aeromodelling, yang dipimpin oleh Letnan Suhartono.
Dari hasil rapat disepakati terbentuknya Organisasi Aeromodelling dengan nama Federasi Aeromodelling Seluruh Indonesia disingkat FASI, yang kemudian nama FASI dijadikan nama dari induk seluruh cabang olahraga dirgantara di Indonesia. Sebagai pusat Organisasi adalah kota Solo di Skadik 011 Wing pendidikan 04,  khususnya dalam mengembangkan olahraga dirgantara dikalangan Pramuka.
      Pada tahun 1966 telah diadakan kerjasama antara kwartir nasional Gerakan Pramuka dengan kepala staf TNI Angkatan Udara, dengan membentuk satuan karya Dirgantara / Kompi-Kompi Pramuka Angkasa dengan menyelenggarakan pendidikan diantaranya Aeromodelling. Dalam upacara pembukaannya ditandai dengan demonstrasi Aeromodelling, Terbang Layang, Terjun Payung, Pesawat Bermotor serta peluncuran Roket yang diselenggarakan di Pulo Mas dengan Inspektur Upacara Bung Karno.
      Untuk tinggal landas digunakan jalan By Pass sebagai landasan pesawat terbang layang dengan pesawat penarik AUSTER  dan di Senayan Jakarta. Tanggal 10 s/d 20 November 1968 diselenggarakan Loka Karya Nasional Pramuka dengan ANUDIRGA ( Andalan Nasionala Urusan Dirgantara ) Bapak Kardono di Jakarta ( Halim Perdanakusuma ).
Olahraga Aeromodelling ini dilombakan baik tingkat nasional, regional maupun internasional. Sejak tahun 1978 olahraga ini sebagai cabang yang dilombakan ekshibisi di PON ( Pekan Olahraga Nasional ) sampai PON XI 1981. Namun pada PON XII tahun 1989 cabang olahraga Aeromodelling tidak lagi diperlombakan / dipertandingkan. Kemudian pada tahun 2000 mulai lagi dilombakan dalam PON XV di Jawa Timur. Selain melaksanakan / mengikuti lomba Aeromodelling juga mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan PB FASI seperti Jambore Aero Sport, Safari FASI dan lainnya.

Untuk mempelajari lebih banyak artikel-artikel tentang aeromodelling klik di sini.

By Caesar Wiratama

Velocity consulting merupakan jasa layanan dibawah aeroengineering.co.id dengan berbagai jenis solusi, mulai dari drafting CAD, pembuatan animasi, simulasi aliran dengan CFD dan simulasi struktur dengan FEA. Pelajari selengkapnya di sini.

Sumber:http://www.aeromodelling.or.id/news-mainmenu-2/17-pengumuman-lomba/19-sejarah-aeromodelling-indonesia.html