Apa yang Terjadi pada Baterai EV Saat Mobil Sudah Tak Bisa Jalan?
Banyak orang bertanya-tanya: “Kalau mobil listrik (EV) sudah berumur 10-15 tahun dan performanya menurun, apakah baterainya langsung jadi sampah?”
Jawabannya: Sama sekali tidak.
Baterai adalah komponen paling berharga dalam kendaraan listrik. Ketika sebuah mobil listrik dianggap “mati” karena kapasitas baterainya turun di bawah ambang batas operasional (biasanya 70-80%), baterai tersebut sebenarnya baru saja memulai babak kedua dalam “kehidupannya”.
Mari kita bedah perjalanan baterai EV setelah tidak lagi mampu menggerakkan roda di jalan raya.
1. Fase Second Life: Dari Jalan Raya ke Penyimpanan Energi
Meskipun baterai tidak lagi kuat untuk memberikan akselerasi instan atau jarak tempuh jauh pada mobil, ia masih memiliki kapasitas besar untuk penggunaan statis. Inilah yang disebut dengan Second Life Battery Energy Storage System (BESS).
Beberapa pemanfaatan populer di fase ini meliputi:
-
Penyimpanan Energi Rumah Tangga: Menyimpan daya dari panel surya untuk digunakan pada malam hari.
-
Back-up Power Industri: Menjadi cadangan energi untuk data center atau menara telekomunikasi.
-
Stabilisasi Grid: Membantu PLN atau perusahaan listrik menyeimbangkan beban daya saat jam sibuk.
2. Proses Diagnosa: Refurbish atau Recycle?
Sebelum ditentukan nasibnya, baterai akan melalui tahap inspeksi ketat:
-
Remanufacturing: Jika hanya beberapa “cell” yang rusak, teknisi akan mengganti modul yang bermasalah tersebut sehingga baterai bisa digunakan kembali di kendaraan lain.
-
Repurposing: Jika secara keseluruhan sudah tidak layak untuk kendaraan, baterai dibongkar untuk dirakit ulang menjadi unit penyimpanan energi skala kecil.
3. Urban Mining: Menambang di Dalam Pabrik
Jika baterai benar-benar sudah tidak bisa menyimpan daya (mencapai akhir masa pakainya), ia akan masuk ke fasilitas daur ulang tingkat lanjut. Di sinilah proses Urban Mining terjadi.
Baterai EV mengandung material langka dan berharga seperti:
-
Litium
-
Kobalt
-
Nikel
-
Mangan
Dengan teknologi daur ulang modern (seperti proses hydrometallurgy), produsen dapat mengekstraksi hingga 95-98% material tersebut untuk dijadikan bahan baku baterai baru. Ini menciptakan ekosistem circular economy yang meminimalisir penambangan liar yang merusak lingkungan.
Mengapa Ini Penting bagi Masa Depan?
Isu limbah baterai sering kali digunakan sebagai argumen melawan EV. Namun, kenyataannya, industri baterai justru lebih siap dalam hal daur ulang dibandingkan industri minyak bumi. Minyak yang dibakar akan menjadi emisi karbon, sedangkan material baterai bisa diputar kembali berkali-kali.
Bagi Anda pemilik EV atau yang baru berencana membelinya, tak perlu khawatir. Mobil Anda mungkin punya masa pakai, tapi material di dalam baterainya dirancang untuk bertahan hampir selamanya melalui proses daur ulang.
Kesimpulan Baterai mobil listrik tidak berakhir di tempat pembuangan sampah. Mereka berevolusi menjadi penyimpan daya cadangan atau lahir kembali sebagai baterai baru yang lebih efisien. Teknologi inilah yang membuat EV menjadi solusi transportasi yang benar-benar berkelanjutan.
Sumber:
https://www.scientificamerican.com/article/lithium-ion-batteries-hybrid-electric-vehicle-recycling/
https://about.bnef.com/insights/clean-energy/race-to-net-zero-the-pressures-of-the-battery-boom-in-five-charts/
https://www.nrel.gov/transportation/battery-recycling-supply-chain-analysis
https://www.greencarreports.com/news/1134408_report-market-for-recycling-used-ev-batteries-won-t-heat-up-until-2030
https://www.electrive.com/2025/07/30/research-project-to-determine-whether-recycling-or-2nd-life-is-more-environmental/

