Hidrogen vs Listrik: Mana yang Akan Menang di Segmen Kendaraan Niaga?
Industri transportasi global kini berada di persimpangan jalan. Dengan target emisi nol bersih (net-zero emissions) yang semakin dekat pada 2026, perdebatan mengenai teknologi mana yang paling mumpuni untuk menggantikan mesin diesel di sektor niaga semakin memanas: Battery Electric Vehicle (BEV) atau Hydrogen Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV)?
Bagi armada logistik dan operasional bisnis, pilihannya bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan tentang efisiensi operasional dan profitabilitas. Mari kita bedah perbandingannya.
1. Kendaraan Listrik (BEV): Sang Penguasa Jarak Pendek
Mobil listrik bertenaga baterai telah memenangkan hati pasar kendaraan penumpang, dan tren ini merambah ke segmen truk ringan dan bus kota.
-
Keunggulan Utama: Efisiensi energi yang sangat tinggi (mencapai 80-90%), biaya operasional per kilometer yang jauh lebih murah dibandingkan diesel, dan infrastruktur pengisian daya yang lebih mapan.
-
Kelemahan di Segmen Niaga: Masalah utama terletak pada berat baterai. Untuk truk bermuatan 40 ton, baterai yang dibutuhkan sangat berat sehingga mengurangi kapasitas muatan (payload). Selain itu, waktu pengisian daya (downtime) yang lama menjadi hambatan bagi jadwal logistik yang ketat.
2. Kendaraan Hidrogen (FCEV): Solusi Logistik Jarak Jauh
Hidrogen sering disebut sebagai “bahan bakar masa depan” untuk kendaraan berat yang menempuh jarak ratusan hingga ribuan kilometer.
-
Keunggulan Utama: Pengisian ulang tangki hidrogen hanya memakan waktu 5-15 menit—setara dengan mengisi solar. Selain itu, sistem fuel cell jauh lebih ringan daripada tumpukan baterai raksasa, memungkinkan truk membawa muatan lebih banyak.
-
Kelemahan Utama: Efisiensi energi secara keseluruhan masih rendah (hanya sekitar 30-35%) karena energi hilang dalam proses konversi listrik ke hidrogen, lalu kembali ke listrik. Biaya produksi “Green Hydrogen” juga masih relatif mahal.
Perbandingan Head-to-Head
| Fitur | Truk Listrik (BEV) | Truk Hidrogen (FCEV) |
| Waktu Isi Ulang | 30 Menit – Beberapa Jam | 5 – 15 Menit |
| Jarak Tempuh | 200 – 500 KM | 500 – 1.000+ KM |
| Payload (Muatan) | Berkurang (Baterai Berat) | Optimal (Sistem Ringan) |
| Biaya Energi | Lebih Murah | Saat Ini Masih Mahal |
| Infrastruktur | Cukup Tersedia | Masih Sangat Terbatas |
Siapa Pemenangnya di 2026?
Hingga tahun 2026, tren menunjukkan bahwa tidak ada pemenang tunggal. Industri otomotif cenderung mengadopsi strategi “And” (Keduanya) daripada “Or” (Salah satu):
-
Listrik (BEV) akan mendominasi logistik perkotaan, pengiriman last-mile, dan bus trans-kota di mana rute sudah terprediksi dan tersedia tempat pengisian daya saat parkir malam hari.
-
Hidrogen (FCEV) akan menjadi raja di jalur logistik lintas provinsi (long-haul) dan industri berat (pertambangan/konstruksi) yang membutuhkan tenaga besar tanpa interupsi pengisian daya yang lama.
Kesimpulan
Masa depan kendaraan niaga adalah perpaduan antara efisiensi baterai dan ketahanan hidrogen. Bagi pengusaha armada, transisi ini memerlukan perhitungan matang mengenai rute dan total biaya kepemilikan (Total Cost of Ownership). Satu hal yang pasti: era mesin pembakaran internal (ICE) perlahan mulai berakhir.
Kontributor: Daris Arsyada
Sumber:
https://www.dhl.com/global-en/delivered/responsibility/hydrogen-powered-trucks.html
https://www.carwow.co.uk/blog/hydrogen-vs-electric-cars#gref

