sensor dan perangkat kontrol turbin angin

Sensor dan perangkat pengontrol yang sesuai diperlukan untuk menjaga stabilitas dinamis turbin angin dan meningkatkan kinerja pada macam-macam kondisi angin. Pemantauan sensor untuk mencatat efisiensi dan data stabilitas dinamis turbin harus dikumpulkan secara acak.

Komponen penting seperti rotor, generator, transmisi, dan komponen lainnya bertanggung jawab untuk efisiensi sistem keseluruhan, keandalan, keamanan, dan stabilitas dinamis. Kebanyakan sensor pemantauan ,perangkat keamanan, dan komponen penting lainnya terletak di nacelle.

Komponen nacelle

Sistem Kontrol Regulasi

Sistem kontrol regulasi dengan loop umpan balik cepat, mekanisme kontrol berbasis mikroprosesor, dan algoritme kontrol banyak digunakan oleh turbin angin berkapasitas tinggi untuk menjaga stabilitas dinamis dan operasi yang andal di berbagai jenis angin termasuk turbulensi. Penting untuk ditekankan bahwa kedua pengaturan pitch dan yaw control diperlukan untuk mencapai stabilitas dinamis, aman dan pengoperasian rotor yang andal di berbagai kondisi angin.

Kendali Pitch Rotor

Persyaratan kontrol pengaturan pitch menunjukkan bahwa sudut serang harus dijaga di bawah 5,7 derajat jika koefisien daya optimal dan stabilitas dinamis harus dipertahankan di berbagai lingkungan angin. Sudut aliran (jumlah sudut pitch dan sudut serangan) berubah di berbagai macam kondisi angin pada satu wilayah. Sudut pitch harus disesuaikan di berbagai lokasi di sepanjang panjang blade untuk memenuhi persyaratan sudut aliran.

Tabel di bawah adalah tabel pengaturan pitch oleh pengendali pitch berdasarkan jari-jari blade dan kecepatan angin:

Tabel pengaturan pitch agar memenuhi sudut aliran yang diperlukan. Sumber: Buku Wind Turbine Technology (2011).

Sudut pitch harus disesuaikan dengan mekanisme kontrol pitch yang terdiri dari motor pitch, pengontrol, dan aksesori penggerak untuk memenuhi persyaratan sudut aliran. Penyesuaian sudut aliran dan sudut pitch akan bervariasi sebagai fungsi radius atau panjang blade. Dari tabel di atas terlihat bahwa sudut aliran, kecepatan angin, dan sudut pitch semuanya meningkat dari ujung blade ke lokasi hub. Nilai-nilai dari parameter ini berubah sesuai fungsi dari jari-jari blade.

Block diagram pitch control. Sumber: Buku Wind Turbine Technology (2011).

Elemen penting dari kontrol sistem adalah aktuator, pengontrol berbasis mikroprosesor, kontrol algoritma, power set point device, dan power transducer. Daya dihasilkan oleh turbin angin diukur menggunakan transduser biasanya terletak di dalam dasar menara. Sinyal listrik terukur dibandingkan dengan precision set point device device dan sinyal error kemudian dibawa ke pengontrol mikroprocessor. Kontrol algoritma digunakan untuk memperoleh respon dinamis yang dibutuhkan untuk aktuator memutar blade. Rotasi dari blade harus lancar dan presisi.

Yaw Control

Diagram blok sistem kontrol regulasi yaw mirip dengan pengaturan pitch, namun kontrol yaw kurang canggih. Pengaturan pitch belum cukup menjaga stabilitas dinamis pada kondisi turbulensi.

Implementasi kontrol yaw juga penting untuk memastikan stabilitas dinamis dan perlindungan struktural sistem turbin angin di lingkungan yang bergejolak. Sistem yaw pada turbin berguna untuk membelokkan arah rotor ke kanan/kiri untuk menerima aliran angin. Penerapan sistem pengaturan pitch dan yaw menambah biaya dan membuat sistem lebih kompleks, tetapi sistem kontrol ganda diperlukan untuk stabilitas dinamis utama dan pengoperasian yang aman dari turbin angin berkapasitas tinggi tanpa memedulikan kecepatan angin dan perubahan lingkungan.

Sensor untuk Memantau Parameter Angin

Desain turbin angin menggunakan wind-vane dan perangkat anemometer untuk memantau arah dan kecepatan angin. Pengukuran akurat dari parameter angin ini penting untuk mengoptimalkan efektivitas dari pitch dan kontrol yaw.

Turbin angin menggunakan wind vane untuk memantau arah angin. Perangkat pemantau arah modern untuk turbin angin berkapasitas tinggi memberikan akurasi dan respon cepat. Sebuah monitor arah terletak di dekat anemometer. Anemometer banyak digunakan pada turbin angin untuk merekam kecepatan angin. Perangkat ini cukup akurat. Perangkat berbasis nanoteknologi sangat direkomendasikan, jika respons angin yang cepat dan akurat diperlukan.

Wind vane dan Anemometer. Sumber: https://www.mdpi.com/1996-1073/12/13/2624/htm

Sistem Transmisi

Daya mekanik yang dihasilkan oleh rotor ditransmisikan ke generator listrik oleh sistem mekanis yang terdiri dari gearbox, clutch, dan pengereman untuk mengerem rotor pada situasi darurat. Gearbox diperlukan untuk meningkatkan kecepatan biasanya dari 20 menjadi 50 rpm hingga 1000 hingga 1500 rpm yang dibutuhkan untuk menggerakkan sebagian besar jenis generator. Gearbox terletak di bagian atas menara.

Kekompakan poros dan pengoperasian poros yang mulus adalah persyaratan utama untuk stabilitas dinamis dan operasi rotor yang andal. Dua poros dalam gearbox harus beroperasi bebas getaran dan andal. Desainer harus berkonsentrasi pada beban dinamis tinggi karena daya yang berfluktuasi output dari rotor di bawah lingkungan angin variabel. Beban dinamis dapat dikendalikan dengan menambahkan penyesuaian mekanis dan kemampuan redaman ke dalam mekanisme drive train. Teknik ini sangat penting untuk turbin angin berkapasitas tinggi yang menghadapi beban dinamis tinggi dan generator induksi yang memiliki redaman sedikit. Singkatnya, kinerja sistem transmisi tergantung pada: efisiensi, keandalan, dan kekompakan komponen gearbox.

Generator Listrik

Skeam Induction Generator. Sumber: https://ww2.mathworks.cn/help/physmod/sps/powersys/ref/windturbinedoublyfedinductiongeneratorphasortype.html

Beberapa jenis generator tersedia secara komersial untuk ditempatkan di turbin angin. Generator induksi, generator sinkron, generator variable-speed menggunakan elemen switching berbasis transistor cepat, dan generator frekuensi konstan tersedia secara komersial. Generator terbagi dalam dua kategori: sinkron dan generator asinkron. Generator asinkron juga dikenal sebagai generator induksi dan generator sinkron umumnya dikenal sebagai alternator. Semua turbin angin yang terhubung ke jaringan digabungkan ke generator AC tiga fase untuk mengkonversi tenaga mekanik menjadi tenaga listrik. Stator dari generator sinkron dan asinkron memiliki tiga fase gulungan dilaminasi besi inti menghasilkan medan magnet yang berputar pada kecepatan konstan.

Rotor generator sinkron memiliki medan gulungan untuk membawa arus searah. Bidang lekok ini menciptakan medan magnet konstan berputar yang dibuat oleh stator lekok. Dengan demikian rotor selalu berputar pada kecepatan konstan sinkron dengan medan stator dan frekuensi jaringan. Pada beberapa desain generator, medan magnet rotor dihasilkan oleh magnet permanen yang tidak cocok untuk generator listrik besar.

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

https://www.mdpi.com/1996-1073/12/13/2624/htm (diakses pada tanggal 4 November 2021)

https://ww2.mathworks.cn/help/physmod/sps/powersys/ref/windturbinedoublyfedinductiongeneratorphasortype.html (diakses pada tanggal 4 November 2021)

model aerodinamika tiga dimensi untuk sayap dengan panjang berhingga (finite wing)

Sayap adalah balok yang panjangnya terbatas dengan airfoil sebagai penampang, dengan demikian menciptakan perbedaan tekanan antara sisi bawah dan atas sayap. Perbedaan tekanan menghasilkan gaya angkat (lift).

Pada ujung sayap muncul kebocoran, di mana udara mengalir di sekitar ujungnya dari sisi bawah ke sisi atas. Arus yang mengalir di atas sayap akan dibelokkan ke dalam dan streamline yang mengalir di bawah sayap akan dibelokkan ke luar. Oleh karena itu di tepi belakang ada lompatan pada kecepatan tangensial.Karena lompatan ini ada lembaran vortisitas streamwise terus menerus di bangun di belakang sayap. Lembar ini dikenal sebagai vortisitas belakang.

Streamline di atas dan di bawah sayap dan Vektor kecepatan dilihat dari belakang sayap. Sumber: https://www.osti.gov/etdeweb/servlets/purl/618185

Literatur klasik tentang aerodinamika mengungkapkan bahwa filamen vortex dapat memodelkan aliran melewati airfoil untuk sudut serang kecil. Hal ini dikarenakan aliran untuk sudut serang kecil memiliki viskositas nol dan diatur oleh persamaan Laplace linier. Untuk kasus khusus ini, lift bisa menjadi didefinisikan menggunakan persamaan Kutta-Joukowski dengan perkalian cross product:

L = ρV X Γ

di mana ρ adalah massa jenis udara dan Vα adalah kecepatan aliran pada sudut serang. Sayap yang lengkap dimodelkan oleh serangkaian filamen vortex Γi , i=l,2,3,4,…, seperti pada gambar di bawah. Filamen vortex paling kuat (panjang) di ujung sayap dan berkurang di bagian dalam sayap.

Model vortex 3D dan Induced Velocity.

Dalam aliran nyata, vortex bebas akan meringkuk di sekitar ujung seperti gambar. Vortex bebas yang diinduksi (downwash) oleh hukum Biot-Savart adalah komponen kecepatan w pada setiap posisi sayap. Untuk satu filamen vortex Γ kecepatan induksi (induced velocity) di titik p adalah:

Kecepatan induksi w, kecepatan awal V dan kecepatan efektif Ve ditunjukkan pada bagian sayap dengan perbedaan sudut serang αg, αi dan αe . Dari teori potensial, yang berlaku untuk sudut serang di bawah stall, diketahui bahwa gaya angkat (L) tegak lurus pada kecepatan awal seperti pada persamaan L. Pada gambar di bawah, gaya ini dilambangkan dengan R. Namun, gaya angkat menurut definisi adalah gaya yang tegak lurus terhadap aliran awal V, dan gaya yang dihasilkan karena itu didekomposisi menjadi komponen tegak lurus dan komponen dalam arah V. Gaya drag di sini dilambangkan dengan drag induksi Di. Di ujung sayap gaya angkat (lift) adalah nol.

Skema gaya lift dan drag.

Sistem Vortex Pada Turbin Angin

Rotor turbin angin HAWT terdiri dari sejumlah sudu yang berbentuk sayap. Jika sayap dipotong pada jarak r dari sumbu rotasi seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah, airfoil akan lebih mudah diamati komponen kecepatannya dan komponen sudut-sudutnya.

Rotor turbin HAWT dan potongan airfoilnya.

Sudut serang lokal α pada pitch airfoil ϴ, kecepatan aksial Va pada bidang rotor dan kecepatan rotasi Vrot pada bidang rotor dapat dirumuskan menjadi:

α = Φ – ϴ

Φ adalah sudut aliran yang dapat dirumuskan menjadi:

Φ = arc tan (Va/Vrot)

Karena turbin angin sumbu horizontal terdiri dari sayap yang berputar, sistem vortex mirip dengan sayap pesawat pasti muncul. Lembaran vortex bebas berorientasi pada jalur heliks di belakang rotor. Vortex yang kuat terletak di ujung rotor dan vortex pada akar baling-baling terletak di jalur linier sepanjang sumbu rotor.

Vortex pada rotor HAWT

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

https://www.osti.gov/etdeweb/servlets/purl/618185 (diakses pada tanggal 3 November 2021)

model aerodinamika dua dimensi (airfoil) pada desain turbin angin

Baling-baling pada turbin angin merupakan komponen penting untuk mengonversi energi mekanik angin ke energi listrik. Baling-baling dapat berputar karena angin disebabkan oleh bentuk penampang melintang baling-baling yang bisa disebut airfoil.

Bilah rotor turbin angin adalah struktur panjang. Komponen kecepatan span-wise jauh lebih rendah daripada komponen kecepatan stream-wise. Pada kondisi ini, fenomena airfoil baling-baling dapat diasumsikan dalam banyak model aerodinamis aliran udara pada posisi radial tertentu adalah dua dimensi dan data airfoil dua dimensi dapat diterapkan. Perhatikan bahwa aliran dua dimensi mewakili bidang dan jika bidang ini dijelaskan oleh x, y, z sistem koordinat diilustrasikan pada Gambar, komponen kecepatan aliran di arah z akan menjadi nol.

Skema 2D Airfoil

Hal ini diperlukan untuk mengekstrusi airfoil menjadi angin dengan rentang tak terbatas untuk mewujudkan aliran 2-D. Dalam praktik sebenarnya, chord dan putaran di bagian sayap nyata berubah sepanjang rentang. Aliran angin dimulai dari hub dan berakhir di ujung. Model ini selanjutnya diklaim menjadi model aerodinamis 2-D praktis untuk desain rotor turbin angin.

Gaya reaksi dari aliran udara memiliki dua komponen, yaitu komponen tegak lurus terhadap kecepatan aliran dan komponen yang sejajar dengan kecepatan aliran. Jika airfoil dirancang untuk pesawat terbang, rasio lift-to-drag (L/D) harus dimaksimalkan. Untuk airfoil turbin angin, drag-lift ratio harus dimaksimalkan dan drag harus diimbangi oleh sistem propulsi untuk mempertahankan kecepatan konstan. Semakin kecil drag, semakin kecil ukuran mesin yang dibutuhkan. Koefisien drag (CD) dan lift (CL) dapat dirumuskan menjadi:

CD = [D/(1/2) ρ V02c]
CL = [L/(1/2) ρ V02c]

di mana D adalah gaya hambat (drag), L adalah gaya angkat (lift), ρ adalah massa jenis udara, c adalah tali busur atau panjang airfoil, dan V0 adalah kecepatan aliran. Chord didefinisikan sebagai garis dari trailing edge (tepi belakang) ke nose (hidung).

Penjelasan fisik untuk gaya lift adalah bahwa bentuk airfoil memaksa garis arus (streamline) melengkung di sekitar geometri seperti pada gambar di atas. Teori mekanika fluida dasar menyatakan bahwa gradien tekanan diperlukan untuk melengkung streamline pada radius dari lengkungan R dan kecepatan V. Gradien tekanan bertindak seperti gaya sentripetal menghasilkan gerakan melingkar dari partikel. Karena tekanan atmosfer P0 jauh dari airfoil, tekanan di bawah atmosfer harus berada pada sisi atas dari airfoil dan tekanan di atas atmosfer berada pada sisi bawah airfoil seperti yang ditunjukkan pada gambar.

Drag dan lift tergantung pada angle of attack. Jika koefisien gaya lift dan drag yang diterapkan di sepanjang bilah diketahui, mudah untuk menghitung distribusi gaya pada bilah. Beban seperti sebagai daya output dan bending moment ada akar bilah bisa ditentukan dengan mengintegrasikan distribusi beban ini di sepanjang span.

Airfoil

Sudut-sudut airfoil

Desain turbin angin yang efisien sangat bergantung pada konfigurasi airfoil dan sifat-sifatnya. Sifat-sifat airfoil dapat diperoleh dari diagram berdasarkan pada hasil uji yang diperoleh dari terowongan angin (wind tunnel). Hasil pengujian ini terlebih dahulu menunjukkan hubungan antara angle of attack (sudut serang) dan koefisien lift (CL), dan kedua, diagram rasio meluncur yang menunjukkan hubungan antara koefisien lift dan koefisien drag (CD). Jika sudut sudu dan kecepatan putar konstan, sudut serang, koefisien angkat, koefisien drag, dan rasio meluncur akan berubah terus menerus di berbagai bagian bilah di sepanjang sumbu bilah.

Berbagai konfigurasi desain airfoil telah diselidiki dan dikembangkan untuk: desain turbin angin, dengan penekanan pada struktural utuh dari bilah rotor. Ketika aliran udara melewati airfoil, gaya hambat (D) tercipta pada arah angin semu dan gaya angkat (L) tegak lurus terhadap gaya hambat. Kedua gaya ini memiliki gaya resultan Lres yang terdiri dari dari dua komponen: gaya melingkar yang berguna dan gaya thrust yang tidak berguna. Gaya melingkar berguna karena, ketika gaya berada di bidang berotasi, gaya ini memunculkan kapabilitas rotasi ke rotor. Karena kapabilitas rotasi, gaya melingkar yang kuat dari airfoil adalah persyaratan pokok dari turbin angin.

Profil blade dapat memiliki beberapa ketebalan yang berbeda. Dua digit terakhir dalam nomor jenis airfoil menunjukkan ketebalan relatif (yaitu, ketebalan sehubungan dengan lebar) dinyatakan sebagai persen. Misalnya, untuk konfigurasi airfoil NACA4412, ketebalan maksimum airfoil adalah 12% dari lebar. dalam kasus turbin angin, gaya angkat dari bilah rotor digunakan untuk membuat rotor berputar, tetapi gaya keliling melingkar tidak sama dengan gaya lift. Selanjutnya, lift selalu diterapkan tegak lurus terhadap arah angin semu. Sebuah bilah rotor memiliki sudut tertentu ke bidang rotasi, sedangkan airfoil memiliki beberapa gesekan atau drag (D) yang diterapkan pada arah angin semu. Gaya-gaya ini bertanggung jawab untuk pembentukan gaya melingkar FCIRC yang bekerja di bidang rotasi. Gaya thrust tegak lurus terhadap bidang rotasi. Besarnya gaya keliling itu kecil dibandingkan dengan gaya thrust, tetapi daya yang dihasilkan besar karena kecepatan putarnya sangat tinggi.

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Selengkapnya tentang desain turbin angin, simak pada video berikut ini:

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

Teori Momentum Satu Dimensi pada Rotor Turbin

Turbin angin mengonversi energi mekanik dari energi kinetik angin menjadi energi listrik. Rotor turbin memainkan peran kunci dalam mengonversi energi kinetik angin ini.

Untuk mempelajari rotor turbin lebih lanjut, teori momentum satu dimensi digunakan. Sebuah rotor dalam model 1-D sederhana adalah cakram melingkar. Cakram dianggap sebagai contoh ideal karena tidak memiliki gesekan dan tidak memiliki komponen kecepatan rotasi di belakangnya.

Disk bertindak sebagai perangkat penghambat (drag) dan memperlambat kecepatan angin dari kecepatan angin awal V0 jauh ke hulu rotor ke kecepatan angin u di bidang rotor dan akhirnya ke u1 seperti yang diilustrasikan pada Gambar. Dalam kondisi ini, garis arus harus menyimpang seperti yang ditunjukkan pada gambar. Drag muncul dari pressure drop pada rotor. Pressure drop tergantung pada massa jenis udara (ρ), kecepatan angin awal (V0), dan kecepatan angin akhir pada bidang rotor u1.

Model 1D sederhana dari rotor turbin. Sumber: Buku Wind Turbine Technology (2011) dan https://en.wikipedia.org/wiki/Blade_element_momentum_theory

Karena aliran angin pada model stasioner, incompressible , dan tanpa gesekan, tidak ada gaya eksternal yang bekerja pada fluida upstream atau downstream dari rotor. Persamaan Bernoulli dapat digunakan untuk merumuskan tekanan hulu dan hilir rotor dapat ditulis sebagai:

[p0 + (1/2)ρV02] = [p + (1/2)ρu2] (upstream ke rotor)
[p – Δp)+ (1/2)ρu2] = [p0 + (1/2)ρu12] (rotor ke downstream)

Eliminasi kedua persamaan di atas menjadi Δp = [(1/2)ρ (V02– u12)]. Di mana ρ adalah massa jenis udara (1,225 Kg/m3), p adalah kenaikan tekanan dari tingkat tekanan atmosfer pada p0, V0 adalah kecepatan angin di upstream rotor, u adalah kecepatan angin pada bidang rotor, Δp adalah pressure drop pada rotor.

Thrust

Thrust didefiniskan sebagai pressure drop yang melintasi cakram aktuator dikalikan dengan luas cakram. Thrust adalah gaya dorong yang bekerja dalam arah yang berlawanan yang dihasilkan dari pressure drop rotor yang mengurangi kecepatan angin awal V0 ke u1.

Thrust = T = ∆pArotor. A = [πR2]

Karena Δp = [(1/2)ρ (V02– u12)], Thrust akan menjadi T = [(1/2)ρ (V02– u12)] πR2.

Koefisien Thrust

Koefisien daya, CT, didefinisikan sebagai rasio thrust dari rotor turbin T, dengan thrust yang tersedia yang tersedia, atau bisa dirumuskan sebagai:

CT = T/Tavail
CT = [(1/2)ρ (V02– u12) πR2] / [(1/2)ρ V02 πR2]

CT = (V02– u12) / V02

Daya Rotor

Daya yang diekstraksi dari angin oleh cakram aktuator adalah sama dengan gaya dorong thrust T, dikalikan kecepatan angin pada cakram aktuator.

P = T.u
P = [(1/2) ρ (V02– u12)] πR2 u
P = (1/2) ρ πR2 u (V02– u12)

Koefisien Daya (Power Coefficient)

Koefisien daya, Cp, didefinisikan sebagai rasio daya diekstraksi dari angin, P, dan daya angin yang tersedia, atau bisa dirumuskan sebagai:

Cp = P/Pavail

Daya angin yang tersedia pada penampang rotor adalah energi kinetik angin pada jalur hulu (upstream yang dapat dirumuskan menjadi:

Pavail = (1/2)ρ πR2 V03

Sehingga Cp menjadi Cp = [(1/2) ρ πR2 u (V02– u12)] / [(1/2)ρ πR2 V03]
Cp = [u (V02– u12)] / V03

Pada zaman modern ini, perancangan rotor turbin angin selain menggunakan rumus fisika, kita dapat merancang menggunakan metode komputasi. Metode ini adalah metode Computational Fluid Dynamics (CFD). Computational Fluid Dynamics (CFD) adalah seni untuk menggantikan persamaan-persamaan integral dan diferensial parsial menjadi persamaan aljabar diskrit, yang mana untuk kemudian dapat diselesaikan untuk memperoleh solusi berupa angka-angka nilai aliran pada titik-titik diskrit ruang dan waktu. Jadi persamaan-persamaan analitik seperti hukum-hukum mekanika fluida yang rumit dapat diselesaikan secara cepat dengan bantuan komputer. >> KLIK DI SINI UNTUK MENDESAIN ROTOR TURBIN ANGIN MENGGUNAKAN CFD!

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

https://en.wikipedia.org/wiki/Blade_element_momentum_theory (diakses pada tanggal 1 November 2021)

https://www3.nd.edu/~tcorke/w.WindTurbineCourse/Aerodynamics_Presentation.pdf (diakses pada tanggal 1 November 2021)

tip speed ratio pada rotor turbin angin

Untuk mengekstrak energi angin dengan cara yang efisien, rotor harus memiliki kecepatan rotasi relatif terhadap ukuran diameter rotor dan kecepatan angin yang cukup. Dengan kata lain, rotor harus memiliki tip speed ratio yang efisien.

Tip speed ratio turbin angin sangat tergantung pada jumlah bilah yang dikerahkan oleh rotor. Studi lebih lanjut menunjukkan jika bilah rotor sedikit sebaiknya tip speed ratio ditingkatkan. Dengan kata lain, untuk turbin angin dengan diameter rotor sama, rotor berbilah satu membutuhkan RPM lebih tinggi dibandingkan rotor berbilah dua, dan membutuhkan RPM lebih tinggi dibandingkan tiga bilah serta membutuhkan desain gearbox yang rumit.

Ada hubungan yang erat antara rasio kecepatan ujung (λ), kecepatan rotasi (ω), dan jari-jari rotor (R). Tip speed ratio didefinisikan sebagai rasio antara kecepatan di ujung sudu rotor dan kecepatan angin yang tidak terganggu (V0). Tip speed ratio dapat dirumuskan menjadi:

λ = [Vtip/V0]

Perbandingan tip speed berdasarkan jumlah bilah

Penting untuk diingat bahwa pada kecepatan rotasi tertentu, Kecepatan ujung (tip speed) meningkat dengan panjang atau jari-jari bilah. Kecepatan rotasi (ω) biasanya dinyatakan dalam putaran per menit (rpm) dan kecepatan ujung dan kecepatan angin dinyatakan sebagai meter per detik (m/s). tip speed dapat ditulis sebagai:

Vtip = [ω 2 π R/60] m/sec

di mana ω adalah kecepatan rotasi (rpm) dan R adalah jari-jari atau panjang rotor (m).

Perhatikan bahwa turbin angin berkapasitas besar memiliki bilah yang lebih panjang yang beroperasi pada rotasi kecepatan secara signifikan di bawah 50 rpm untuk mengurangi kebisingan dan menjaga keutuhan struktural dari turbin. Ketika bilah dari turbin angin berputar, kecepatan pada tip dari bilah lebih tinggi dibandingkan kecepatan di tengah bilah. Untuk contoh, turbin angin dengan panjang bilah 20 m dan rotasi kecepatan dari 30 rpm, tip speed akan menjadi 60 m/dtk tetapi kecepatan pada tengah bilah hanya sekitar 30 m/dtk.

Tabel radius rotor dan rpm sebagai fungsi tip speed

Karena kecepatan segmen bilah meningkat dari akar bilah ke ujung bilah, arah angin yang tampak juga akan berubah. Jika angin bergerak dari akar ke ujung bilah, arah angin yang terlihat akan bergerak ke arah bidang vertikal. Oleh karena itu, untuk mencapai sudut serangan yang sama di seluruh sumbu bilah, bilah harus diputar seperti pada gambar di bawah.

Perkiraan aliran arah angin sepanjang sumbu aksial bilah rotor.

Arah angin semu sepanjang sumbu sudu rotor dengan kecepatan angin 9 m/s terlihat jelas karena untuk memutar bilah. Sudut (φ) dari arah angin semu terhadap bidang vertikal bervariasi dari 27 derajat di akar bilah hingga 6 derajat di ujung bilah seperti yang ditunjukkan pada gambar. Penting untuk menunjukkan bahwa dengan memutar sudu sehingga sudut menurun ke arah ujung, sudut serang (α) dapat dijaga konstan untuk kondisi angin tertentu. Sudut arah angin semu dapat dirumuskan menjadi:

φ = [α + β]

Penting untuk disebutkan bahwa kecepatan angin yang tidak terganggu (Vundist) akan berkurang menjadi sekitar 2/3 dari asumsi kecepatan angin 9 m/detik tepat di depan piringan rotor. Nilai perkiraan sudut arah angin semu terhadap bidang vertikal dan besarnya kecepatan angin yang tidak terganggu di berbagai lokasi blade yang dirangkum pada tabel di bawah. Tabulasi tabel di bawah memperkiraan kecepatan angin yang tidak terganggu pada bermacam-macam lokasi sepanjang bilah. Jelas bahwa kecepatan angin maksimum ada pada tip dan minimum pada akar. Hal ini berarti bahwa gaya sentrifugal dan bending moment akan menjadi besar sekali pada tip dari sebuah bilah.

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Simak video di bawah ini untuk mempelajari selengkapnya tentang desain turbin angin:

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

estimasi energi yang dihasilkan pada turbin angin

Memahami jumlah energi yang akan dipanen oleh pembangkit listrik tenaga angin setiap tahun dan variabilitas energi itu penting untuk menilai dan berpotensi meningkatkan keuangan kelangsungan hidup pembangkit listrik tersebut.

Jumlah energi angin yang dapat dihasilkan tergantung pada ukuran turbin angin dan kecepatan angin rata-rata tahunan di lokasi. Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi penangkapan energi seperti bukit, pohon dan bangunan (atau turbin angin lainnya) yang dapat menghalangi angin, dan efisiensi turbin angin itu sendiri. Dengan asumsi turbin Anda telah ditempatkan dengan baik dan berasal dari produsen berkualitas baik, faktor terpenting adalah kecepatan angin rata-rata tahunan.

Perhitungan Energi Dasar

Energi yang dapat ditangkap dari angin adalah energi kinetiknya. Energi kinetik adalah energi yang muncul benda bergerak. Rumus dasar untuk menghitung jumlah energi kinetik pada benda yang bergerak adalah:

Ek= 0.5mV2 ; m: massa benda(kg), V= Kecepatan udara (m/s)

Untuk menghitung massa udara kita dapat menghitungnya dengan rumus laju massa angin per detik:

m=ρAV ; A= Luasan rotor turbin yang terkena angin (πR2), R= jari-jari rotor, ρ= massa jenis udara.

Dengan mensubtitusi rumus m ke dalam Ek, Rumus energi kinetik angin menjadi:

Ek = [(1/2)ρAV3]

Power curve

Energi yang dihasilkan dari turbin angin akan bervariasi tergantung pada kecepatan angin tetapi juga pada karakteristik khusus turbin. Variasi ini diilustrasikan di Power Curve. Power curve ini biasa dibuat oleh pabrikan turbin angin.

Power curve. Sumber: https://www.reseau-pwdr.be/sites/default/files/3615_ELREN%20Ch7%20Wind%20Energy.pdf

Karakteristik spesifik turbin yang mempengaruhi power curve adalah:

  • Tipe blade dan jumlah
  • Diameter rotor
  • Tip speed ratio
  • RPM
  • Cut in, rated and shut down wind speeds
  • Efisiensi generator dan gearbox

Biasanya power curve turbin angin untuk HAWT akan menunjukkan cut-in wind speed 3-5m/s, tenaga maksimal antara 8-15m/s dan cut out/shut down speed 25 m/s.

Power curve ini dapat digunakan untuk menghitung produksi energi tahunan. Produksi energi tersebut dapat dihitung dengan mengalikan energi kinetik untuk setiap kecepatan angin dari power curve dengan distribusi frekuensi kecepatan angin yang dialami oleh turbin angin, jumlah jam dalam setahun, dan jumlah turbin yang tersedia.

Contohnya kita gunakan power curve di atas. Ada sebuah turbin dengan kecepatan rata-rata angin di lingkungannya 10m/s. Maka energi tahunan rata-rata yang dihasilkan adalah 250 kW (merujuk pada grafik) *365*24 jam = 2190000 kWH.

Faktor Kapasitas

Definisi umum faktor kapasitas adalah perbandingan antara keluaran energi listrik aktual selama jangka waktu tertentu dibagi dengan keluaran energi listrik maksimum selama periode waktu yang sama.

Capacity factor (F) = (Energi yang keluar turbin dalam periode tertentu/energi maksimal pada periode tersebut)*100%

Energi keluar turbin dapat dihitung menggunakan contoh rumus pada sub-bab power curve. Sedangkan untuk energi maksimalnya dapat dihitung dengan merujuk puncak grafik dari power curve. Contoh grafik power curve di atas memiliki kW maksimal 600. Maka energi maksimal tahunan dari turbin tersebut adalah 365 hari*24 jam*600= 5256000 kWH. Jadi faktor kapasitas turbin tersebut jika merujuk pada contoh sebelumnya (2190000/5256000)*100%= 41,6%.

Apakah faktor kapasitas tinggi itu lebih baik? Belum tentu. Memilih turbin dengan faktor kapasitas lebih besar akan memperbesar biaya perakitan. Kondisi angin tiap tahun juga tidak bisa selalu konstan. Turbin yang sering mengeluarkan energi tinggi akan berpotensi gagal karena beban fatigue. Oleh karena itu, turbin angin harus dirawat pada periode tertentu dan desainer harus terus mengembangkan turbin anginnya.

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Simak video di bawah ini untuk mempelajari selengkapnya tentang desain turbin angin:

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

pwdr.be/sites/default/files/3615_ELREN%20Ch7%20Wind%20Energy.pdf (diakses pada tanggal 28 Oktober 2021)

https://www.windspire.ch/blog/2017/6/22/aep-part-1-capacity-and-more (diakses pada tanggal 28 Oktober 2021)

https://energynumbers.info/capacity-factor-of-wind (diakses pada tanggal 28 Oktober 2021)

Teknik mendapatkan energi angin optimal pada turbin angin

Teknik menangkap energi angin dalam jumlah besar akan ditekankan pada biaya dan faktor keamanan. Pemilihan lokasi yang ideal untuk instalasi turbin angin sangat penting. Proses seleksi harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kecepatan dan arah angin, fitur medan yang diinginkan, daerah perumahan terdekat, dan penangkapan energi tahunan.

Untuk pengoperasian optimal, kecepatan angin dari 20 hingga 30 m/menit sangat direkomendasikan. Ini adalah persyaratan pemilihan lokasi yang paling penting. Parameter seleksi lainnya seperti tinggi pemasangan, parameter blade, karakteristik airfoil, dan keaerodinamisan; mereka semua memainkan peran penting dalam menangkap energi angin secara efisien oleh turbin angin.

Parameter Penting Energi Angin

Kinerja turbin sangat tergantung pada energi angin. Turbin angin beroperasi pada teori mekanika fluida dan oleh karena itu pengetahuan awal tentang prinsip-prinsip dasar mekanika fluida perlu dipahami. Energi kinetik dari angin digunakan untuk menggerakan rotor turbin. Energi kinetik dapat dirumuskan menjadi:

Energi Kinetik: Ek= 0.5mV2 ; m: massa udara (ρAV) ; ρ: massa jenis udara, A= luasan rotor yang terkena angin, V= kecepatan udara.

Seorang perancang turbin angin harus memerhatikan jumlah daya yang dapat dihasilkan dari energi angin yang tersedia. Daya didefinisikan sebagai laju angin energi yang tersedia per satuan waktu. Ini juga dapat didefinisikan sebagai laju energi angin melewati suatu luasan per satuan waktu. Berdasarkan definisi ini, daya yang tersedia dari angin adalah:

Daya: P = [(1/2)ρAV3]

Daya turbin angin yang tersedia berbanding lurus pada massa jenis udara pada lokasi pemasangan dan luasan yang terkena angin (menyapu luasan bilah). Luasan yang terkena angin dapat dirumuskan sebagai rumus luas lingkaran.

Luas: A=[πR2] ; R= jari-jari rotor

Dampak Massa Jenis Udara Pada Tenaga Angin

Data meteorologi menunjukkan bahwa massa jenis udara menurun dengan meningkatnya suhu dan peningkatan ketinggian. Ini berarti massa jenis udara yang lebih tinggi terjadi di lokasi turbin yang terletak pada ketinggian yang lebih rendah dengan suhu yang lebih dingin. Dengan kata lain, tempat seperti Gobi Gurun, yang terletak di ketinggian yang lebih tinggi tetapi di ketinggian yang lebih rendah, paling cocok untuk instalasi turbin angin. Itulah sebabnya orang Cina memasang beberapa turbin angin yang mampu menghasilkan lebih dari 10.000 MW setiap tahun.

Efisiensi Maksimum Secara Teori

Efisiensi rotor yang tinggi tentu saja diinginkan untuk meningkatkan konversi energi aliran angin menjadi energi mekanik rotor tentunya dengan biaya produksi yang masih terjangkau. Untuk menghitung efisiensi ini, pertama-tama perlu didefinisikan terlebih dahulu daya angin yang datang (energi potensial):

dengan P = Daya (watt), rho = massa jenis (kg/m3), A = luas penampang turbin (m2), dan V = kecepatan (m/2). Aliran udara melalui turbin angin akan mengalami penurunan kecepatan karena terjadinya interaksi antara udara dengan turbin, penurunan kecepatan ini juga mengindikasikan terjadinya perubahan energi angin menjadi energi mekanik rotor. Jika kita menghendaki terjadinya efisiensi 100%, kecepatan angin setelah melewati turbin haruslah bernilai nol, atau berhenti sama sekali, tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi; adapun dapat dihitung menggunakan teori rotor disc bahwa efisiensi maksimum yang dapat dicapai secara teori adalah sebesar 59,3%, parameter efisiensi ini disebut dengan power coefficient Cp, maksimum Cp = 0,593 dikenal juga dengan istilah Betz limit dalam desain turbin angin. 

Efisiensi real dari turbin angin akan berkurang karena beberapa faktor seperti munculnya aliran wake pada blade yang mengurangi gaya angkat pada airfoil, pemilihan airfoil yang memiliki efisiensi rendah dan munculkan “kebocoran” aliran pada bagian tip yang mengakibatkan munculnya aliran vortex yang tidak diinginakan.

Untuk menghasilkan putaran (torsi) pada rotor turbin angin, digunakan dua metode yaitu memanfaatkan gaya hambat (drag) ataupun memanfaatkan gaya angkat (lift) dari bentuk aerodinamika blade. Berikut adalah tabel perbandingan kedua model tersebut:

Untuk model Drag, bilah turbin angin sengaja dibuat menghambat aliran udara dan diberi lengan momen tertentu terhadap sumbu putar, sehingga menghasilkan torsi untuk memutar turbin. alternatif lain lain adalah menggunakan gaya angkat aerodinamik yang terjadi pada airfoil rotor kemudian gaya angkat tersebut diarahkan searah dengan berputarnya rotor dan diberikan lengan momen terhadap sumbu putar sehingga menghasilkan torsi. Metode lift cenderung lebih efisien karena tidak banyak merubah pola aliran udara atau banyak menghasilkan wake. Berikut adalah beberapa jenis tipe turbin angin beserta beberapa deskripsinya:

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Simak video di bawah ini untuk mempelajari lebih lengkap tentang turbin angin:

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

pemanfaatan turbin angin di dunia

Beberapa negara sedang mencari metode alternatif untuk menghasilkan energi bersih yang akan menghilangkan ketergantungan pada minyak dan gas alam yang mahal. Semenjak munculnya turbin angin yang mampu menghasilkan energi listrik bersih dalam jumlah besar mulai dari 50 hingga 500 MW dengan investasi awal minimum, teknologi turbin angin menjadi perhatian besar dunia.

Kincir angin pembangkit listrik saat ini dapat mencapai ketinggian yang mendekati Monumen Washington, dengan panjang bilah melebihi 100 m atau 328 kaki. Arus turbin angin dinilai hingga mencapai 5 MW, yang akan dapat memenuhi kebutuhan energi untuk ratusan rumah. Teknologi turbin angin matang dapat diandalkan dan beroperasi terus menerus ketika angin konstan tersedia. Pada April 2008, sebuah kota kecil di Missouri dengan populasi mendekati 1500 menjadi kota pertama di Amerika Serikat yang mendapatkan semua listriknya dari tenaga angin berkapasitas 5 MW.

Berikut adalah contoh negara-negara terkenal yang memanfaatkan energi angin dengan turbin angin:

Belgia dan Belanda

Turbin Angin di Belanda. Sumber: https://inhabitat.com/wind-power-now-runs-all-electric-passenger-trains-in-the-netherlands/

Wilayah pesisir Belgia tersedia angin kencang sepanjang tahun. Ratusan instalasi turbin mulai dari skala kecil (10 hingga 100 kW) hingga skala pemanfaatan (2 hingga 5 MW) dipasang antara tahun 1950 dan 2008 untuk memenuhi kebutuhan energi listrik. Turbin angin tiga bilah dengan kapasitas keluaran melebihi 300 kW dipasang pada tahun 1987. Menurut survei konsumsi energi listrik, ratusan fasilitas skala kecil dengan kapasitas mulai dari 10 ke 50 kW terpasang di antara 1990 dan 2005 untuk perumahan dan pemompaan, khususnya selama musim banjir yang biasa terjadi di Belanda. Instalasi ini sebagian besar bisa dilihat di dekat peternakan dan dataran terbuka.

Denmark

Denmark memelopori teknologi energi angin sejak tahun 1970. Menurut survei Historical Wind Turbine Development (HWTD), Fasilitas turbin angin 50-kW mulai beroperasi pada awal tahun 1941 dan operasi turbin 100-kW pada tahun 1957 di Denmark. Turbin angin dengan megawatt yang lebih tinggi dipasang antara tahun 1980 dan 1990 di wilayah pesisir. Denmark berencana untuk menghasilkan lebih dari 4500 MW energi listrik pada tahun 2020 menggunakan teknologi turbin angin.

Parlemennya berencana untuk memperkenalkan undang-undang pada tahun 2009 yang akan membutuhkan operator taman angin untuk memberi kompensasi kepada penduduk jika pemasangan turbin angin mengurangi nilai propertinya. Peraturan perundang-undangan akan mengizinkan operator untuk membongkar turbin angin lama dan menjual atau mengirimkannya ke negara-negara eropa timur. Semua kegiatan ini menunjukkan bahwa negara akan mengembangkan teknologi turbin angin untuk memenuhi kebutuhan warganya.

Amerika Serikat

Sebagian besar instalasi turbin angin AS terletak di wilayah pesisir barat (California, Oregon, dan Washington) dan di negara bagian pantai timur (Massachusetts, Vermont, dan Maine). Wilayah pesisir Alaska juga dianggap sesuai untuk instalasi turbin angin karena kekuatan anginnya. Dataran luas di montana, Kansas, dan daerah serupa dipertimbangkan ideal untuk instalasi dengan kapasitas mulai dari 100 kW ke 5 MW pada biaya minimal. Turbin angin untuk perumahan beroperasi di Carolina Utara, New York, Gunung Appalachian, Maine, montana, Connecticut, dan daerah lainnya yang memiliki kecepatan angin tinggi.

Meskipun konsumsi energi angin di AS mewakili kurang dari 0,5% dari total energi negara, berbagai jenis turbin angin yang diproduksi oleh beberapa Perusahaan AS memenuhi kebutuhan energi angin warga. Beberapa pabrikan AS, dealer, dan pemasang mengkhususkan pada skala kecil (10 ke 100 kW), skala utilitas (1 ke 5 MW), dan skala besar pada peternakan (50 ke 500 MW).

Britania Raya

Wilayah pesisir Skotlandia dan wilayah pesisir barat Inggris dianggap paling ideal untuk pemasangan turbin angin. Instalasi turbin angin mendapat perhatian besar di Inggris setelah 1950. Turbin angin Inggris pertama dengan peringkat daya 100-kW dipasang pada tahun 1955. Unit kedua dengan peringkat yang sama mulai beroperasi pada tahun 1957 dan segera diikuti oleh turbin angin yang mampu menghasilkan energi listrik lebih dari 130 kW. Pemerintah Inggris mengoperasikan turbin angin dengan kemampuan output melebihi 250 kW sekitar tahun 1983. Sejak itu, beberapa instalasi dengan peringkat daya yang lebih tinggi dipasang di berbagai bagian negara, sebagian besar di daerah pesisir di mana angin kencang sering terjadi. Perencana energi Inggris pada tahun 2008 merekomendasikan proyek yang melibatkan 65 turbin dengan luasan 5.000 hektar lereng bukit dekat Llanbrynmair di Powys, Wales.

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

https://inhabitat.com/wind-power-now-runs-all-electric-passenger-trains-in-the-netherlands/ (diakses pada tanggal 25 Oktober 2021)

turbin angin secara umum

Penggunaan angin sebagai sumber energi telah digunakan selama ratusan tahun untuk memompa air atau menggiling jagung, peralatan ini disebut juga dengan istilah windmill. Pada abad ke 19, bahan bakar fosil menggantikan penggunaan windmill yang besar, berat yang tidak efisien tersebut. Kemudian, pengetahuan tentang aerodinamika dan material yang ringan telah membawa kembali teknologi turbin angin pada sekitar abad ke 20.

Teknologi turbin angin menawarkan sumber energi terbarukan alternatif yang hemat biaya. Penting untuk disebutkan bahwa turbin angin mampu menghasilkan energi listrik lebih besar tanpa efek rumah kaca dibandingkan dengan energi lainnya seperti sel surya, gelombang pasang, biofuel, hidrogen, biodiesel, dan teknologi biomassa.

Prinsip Kerja Turbin Angin

Operasi turbin angin didasarkan pada teori dari mekanika fluida dan beberapa elemen dari aerodinamika. Turbin angin modern menangkap angin dengan berputar ke dalam atau menjauh dari aliran udara. Angin menggerakkan propeller (baling-baling) yang terpasang pada rotor dan pergerakan propeller berkecepatan tinggi ditransmisikan ke poros yang tercouple dengan generator. Arus udara meniup medan datar atau daerah di atas bukit memiliki kecepatan mulai dari 10 ke 65 mil per jam dan adalah cukup untuk menggerakan blade (bilah) besar yang terpasang pada poros turbin. Parameter bilah rotor seperti sebagai chord, sudut putar, dan panjang adalah parameter penting untuk mengoptimalkan keaerodinamisan.

Konfigurasi turbin angin dan skema aliran udara pada dataran dan bukit

Komponen Turbin Angin

Komponen penting dari angin turbin adalah menara, bilah rotor, anemometer, pengontrol, penutup utama, roda gigi kotak, poros kecepatan rendah, poros kecepatan tinggi, mekanisme rem, generator listrik, bantalan, yaw motor, penggerak yaw, indikator pitch, indikator angin, dan nacelle dan lowloss kabel yang membawa energi listrik turun ke menara. Transformator step-up pada dasar menara memungkinkan transfer listrik yang dihasilkan angin ke alat pemanfaatan jaringan listrik. Angin menggerakkan baling-baling yang memutar poros kecepatan rendah dan poros berkecepatan tinggi. Poros berkecepatan tinggi terhubung ke generator yang mampu menghasilkan energi listrik.

Komponen turbin angin

Anemometer adalah elemen penting dari turbin angin. Alat ini mengukur kecepatan angin dan arah dan mengirimkan informasi ke pengontrol yang pada gilirannya memberikan data yang diperlukan untuk elemen penting dari sistem. Pengontrol pada dasarnya mengarahkan motor yaw untuk memutar rotor menghadap atau menjauhi angin, tergantung pada arah angin. Gear box, elemen terberat dari sistem, mengubah rotasi lambat (putaran per menit atau RPM) dari poros rotor kecepatan rendah ke RPM yang lebih tinggi dari poros berkecepatan tinggi yang secara mekanis digabungkan ke generator yang menghasilkan listrik. Singkatnya, poros berkecepatan tinggi menggerakkan generator yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Tepat di belakang hub adalah housing untuk gearbox dan komponen lainnya.

Komponen Elektrik

Turbin angin umumnya berbentuk kit, lengkap dengan baling-baling, generator, inverter, generator angin magnet, pengontrol beban listrik, dll. Komponen penting yang digunakan oleh turbin angin adalah baterai dari supplier pasokan tenaga angin. Komponen termasuk generator angin, generator magnet yang terbuat dari neodymium , keramik, samarium-kobalt, dan aluminium-nikel-kobalt; bilah generator angin; menara; panel surya untuk hibrida sistem; inverter; housing kit turbin ; pengontrol muatan; pompa air angin-solar; dan turbin angin kecil 1-kW, 48-V.

PT Tensor memberikan jasa konsultasi Finite Element Analysis (FEA) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) untuk desain engineering. Kami juga memberikan tutorial-tutorial gratis penggunaan software nya di kanal youtube kami. Hubungi kami sekarang juga!

>> KLIK DI SINI UNTUK JASA KONSULTASI

>> YOUTUBE PT TENSOR

>> KLIK DI SINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LAINNYA !

Kontributor: Daris Arsyada

By Caesar Wiratama

Sumber:

Jha, A.R. 2011. Wind Turbine Technology. Florida: CRC Press Taylor & Francis Group.

Material Pressure Vessel